BONGKARKASUS.COM, BATAM, — Kasus di sekolah Playgroup Djuwita merupakan pelajaran berharga bagi sekolah-sekolah dan orang tua di Indonesia, dimana saat sekolah dan orang tua saling berhadapan di tengah proses hukum, perdebatan, dan saling tuding yang dirugikan adalah anak.
Perlu di ingat sekolah merupakan tempat membentuk karakter dan disiplin, Pendidikan tanpa disiplin ibarat kapal tanpa kemudi. Namun muncul kebingungan ketika ketegasan guru kerap disalahartikan sebagai kekerasan, sementara jika guru lemah dalam mendidik anak, otomatis disiplin runtuh dan guru disalahkan.
Tujuan guru dan orang tua sama membentuk anak yang baik, cerdas, dan berkarakter. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya disakiti, tidak ada guru yang berniat menyakiti anak didiknya. Namun di kasus ini, keduanya terjebak di kubu yang berlawanan dan tanpa disadari yang kalah adalah anak.
Banyak konflik lahir bukan dari niat jahat, melainkan kurang komunikasi. Dalam hal ini jangan biarkan asumsi jadi kebenaran dan jangan biarkan ketidakpahaman berubah jadi permusuhan.
Kasus ini mengajarkan, “ketegasan mendidik bukan alasan menyakiti dan perlindungan anak bukan alasan menghapus disiplin”.
Teguran adalah tugas mulia guru yang didukung orang tua, tapi jika teguran berubah jadi kekerasan yang melukai fisik dan mental anak itu pelanggaran yang harus dipertanggungjawabkan.
Jadikan kasus sekolah Play Group Djuwita ini momentum mempererat kerjasama, bukan memperlebar jurang. Orang tua percayakan anak ke sekolah dengan harapan guru mendidik dengan hati.
Jika ada masalah pada anak, sekolah dan orang tua harus duduk bersama cari solusi bukan cari musuh, karena sekolah dan orang tua tidak berjuang untuk siapa yang benar, melainkan berjuang bersama-sama untuk masa depan anak sebagai generasi penerus bangsa. (*)

Tinggalkan Balasan