Sel, 19 Feb 2013 15:13 WIB

Bahaya Kandungan Cathinone Lebih Dahsyat dari Sabu-sabu

Kontributor : redaksi | telah di baca : 1125 Pengunjung
int

int

Staf Ahli Kimia Farmasi BNN, Mufti Djusnir mengatakan, efek samping menggunakan cathinone lebih berbahaya dari sabu-sabu maupun ekstasi sehingga  perlu diwaspadai peredarannya.

“Efek samping menggunakan cathinone lebih dahsyat dari sabu-sabu maupun ekstasi yang struktur dasarnya adalah   MDMA yakni  3,4 methylene dioxy metacathinone,” kata Mufti.

Cathinone sebenarnya  bukan barang baru dan jauh lebih awal ditemukan oleh ahli di Eropa. Namun karena bahaya daripada golongan cathinone lebih besar, sehingga orang beralih dan keluar zat baru amphetamin derivat, katanya.

“Jadi kalau cathinone dari alam kemudian diisolasi, misalnya kita lihat kalau disubstitusi senyawa dasar cathinone itu gugusnya dengan gugus methil maka cathinone berubah menjadi metcathinone,” kata Mufti.

Bahaya dari zat tersebut mengalami psikoaktif, siapa pun yang menggunakan tanpa takaran jelas mengakibatkan overdosis sehingga  kejang, keram dam berakhir dengan kematian, katanya.

Bahan Dasar

Chathinone Ditemukan

Tanaman khat atau chata edulis, bahan dasar chathinone zat narkotika golongan I, ditemukan di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Di daerah tersebut, tanaman khat menjadi mata pencaharian utama warga.

Tanaman ini daunnya berwarna hijau yang berbentuk oval agak lancip, dengan bagian atas daun agak kasar permukaannya.  Pucuk daun yang muda biasa dipetik dan dan dikunyah rasanya agak getir dan sepet.

Ila (35), salah seorang warga mengatakan sudah selama dua tahun dia menanam khat atau biasa disebut teh Arab dilahannya seluas 700 meter persegi. “Hasilnya lumayan setiap bulan bisa mencapai Rp7 juta, untuk kebutuhan saya sehari-hari,” kata janda tiga anak itu.

Asal mula Ila menanam khat dari bibit yang diberi oleh  mantan majikannya yang warga negara Arab, dimana dia bekerja sebagai manajer di restoran makanan Arab di kawasan Cisarua.

“Cara menanam khat ini mudah cuman distek dan ditanam aja sudah tumbuh.  Ada dua jenis khat yang merah namanya ahmar dan yang hijau namanya ahdor, semuanya laku dijual,” kata Ila.

Tanaman khat yang banyak tumbuh di negara Yaman dan Afrika yang digunakan adalah bagian pucuknya.  ” Orang Arab yang datang langsung makan bagian pucuk daun mudanya saja, katanya.

Daun khat oleh masyarakat sekitar dipercaya untuk mengobati sakit perut, diabetes, kolesterol dan darah tinggi, katanya. Ila hanya mengharapkan ganti rugi pemerintah dengan dimusnahkannya tanaman khat yang ada di lahannya, karena merupakan mata pencahariannya.

Sementara itu,  Saiful (50), salah seorang sekitar mengaku ikhlas kalau memang dilarang menanam khat lagi. “Saya ikhlas kalau memang dilarang untuk menanam, bila bisa merusak kesehatan,” kata Saiful.

Dia mengaku sudah dua tahun menanam tumbuhan khat dan sudah beberapa kali panen hasilnya. “Setiap bulan saya dapat penghasilan sekitar Rp3 juta, dengan luas lahan yang saya miliki 300 meter persegi,” tuturnya.

Daun khat biasa digunakan oleh orang Arab dengan cara dikunyah yang dipercaya untuk meningkatkan vitalitas, tapi kalau keseringan mengunyah daun khat bisa merusak gigi, katanya

Sebelum menanam khat, Saiful menanami lahannya dengan wortel dan daun bawang, namun secara ekonomis penghasilnya lebih tinggi dia menanam khat.

Harga satu ikat wortel dijual Rp1000 sedangkan harga satu kresek kecil daun khat Rp200 ribu, kresek sedang Rp300 ribu dan kresek besar Rp1,1 juta.

Hal ini memicu Saiful dan tiga warga lain di kawasan  jalan Alun-Alun Inpres, Cisarua menanam tanaman yang saat ini sudah dilarang.     “Saya cuman minta ganti rugi untuk modal dan membeli bibit untuk bertani wortel lagi,” katanya.

Dimusnahkan dan Ditindak

Masyarakat Cisarua pada Kamis (7/2) bersama dengan BNN dan pejabat Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) mencabut dan memusnahkan tumbuhan khat.

Di kawasan Bogor ditemukan 55 titik lahan yang ditanam tumbuhan khat yang total luasnya sekitar tujuh hektar yang tersebar di kawasan Cisarua Utara, Cisarua Selatan dan Puncak.

Selanjutnya di kawasan tersebut langsung dipasang spanduk sebagai bentuk sosialisasi larangan untuk menanam tanaman khat dengan ancaman Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

BNN juga memberikan penyuluhan kepada masyarakat dan aparat terkait tanaman khat atau chata edulis, bahan dasar chatinone, zat narkotika golongan I yang banyak ditemui di kawasan Cisarua.

“Kami baru selesai melakukan edukasi kepada aparat dan masyarakat terkait tanaman khat, karena tanaman ini dibawa dari luar negeri,” kata Deputi Pemberantasan BNN Irjen Pol Benny Mamoto.

Dia mengatakan bila masyarakat tidak tahu terhadap tanaman tersebut, BNN masih maklumi.  Namun setelah itu, dilakukan langkah dari pemerintah untuk sosialisasi tidak untuk menanam tumbuhan khat. “Bila ada warga yang menanam, karena sudah diberikan sosialisasi maka kita akan menindaknya,” kata Benny.

BNN  akan memprogramkan “alternative development” bagi para petani khat di Cisarua. Program itu untuk menuntun petani agar tak kembali menanam tanaman berbahaya dan mengambil keuntungan dari komoditi lainnya. Program “alternative development” bagi petani khat Program tersebut berupa tindak persuasif BNN kepada para petani untuk menanam tanaman komoditas lain di sejumlah lahan itu. “Tanaman terkait dengan narkotika pasti akan dilakukan seperti ‘alternative  development’  seperti masalah tanaman ganja di Aceh,” katanya. (it)

Print Friendly
Bagaimanakah Menurut Anda tentang " Bahaya Kandungan Cathinone Lebih Dahsyat dari Sabu-sabu " ?

Tulis komentar Anda di bawah ini

Sponsored Link
Redaksi: redaksi@bongkarkasus.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi : sales@bongkarkasus.com
Pendapat Anda
Suara Pembaca +indeks

Anda dapat mengirimkan Suara Anda langsung ke email redaksi@bongkarkasus.com dengan disertakan foto dan nomor handphone

Wajib Baca close